Sabtu, 03 Februari 2018

Uniknya Berinvestasi di Aceh Besar


Membujur Timur kepulauan Indonesia tampak elok sebuah kabupaten Aceh Besar dari propinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang memiliki ciri khas tersendiri. Pantai Lhok Nga dan Lhok Me disertai dengan air terjun Sihom Lhong memberikan kesan kesegaran dan naturalisme yang begitu mendalam. Hal inilah yang menjadi kebanggaan rakyat Aceh Besar.

Aceh Besar

Kebesaran nama Aceh besar ini juga dipengaruhi oleh sejarah yang pernah dituliskan oleh salah satu rakyatnya yaitu Cut Nyak Dien. Cut Nyak Dien terkenal sebagai pahlawan yang berjuang pada masa penjajahan Indonesia dan lahir di kabupaten Aceh Besar, Lampadang. Di Kabupaten Aceh Besar inilah terdapat Museum Cut Nyak Dien, Benteng Indra Patra tempat masa kesultanan Aceh Darrussalam menahan serangan Portugis pada abad ke 20 dan Perpustakaan Islam kuno Tanoh Abee yang berdiri saat Belanda masih berkuasa di Indonesia.

Nilai unik sejarah Aceh Besar ini juga tidak luput dari potensi daerah yang memberikan kesejahteraan untuk masyarakatnya. Daya dukung lahan yang memadai di daerah kabupaten Aceh Besar ini mendukung terciptanya berbagai lapangan peternakan yang luas dan pertanian yang cukup subur. Bahkan Aceh Besar ini merupakan satu-satunya kabupaten yang menghasilkan susu sapi di seluruh Aceh. Dengan luas wilayah 2.969 km2 dan kecamatan sebanyak 23 buah ini membuat penduduk yang berjumlah sekitar 350ribuan dapat hidup nyaman dan tentram.

Keunikan lainnya dari Aceh besar adalah pembangunannya. Sistem pembangunan daerah di wilayah Kabupaten Aceh Besar ini termasuk terencana dengan baik. Bahkan sistem irigasi tertua dengan saluran air yang baik terdapat di Kabupaten Aceh besar dan berhulu di Krueng Jreu. Dalam teori pembangunan daerah, pembangunan infrastruktur seperti sistem irigasi yang membuat pertanian yang kuat akan mempercepat peningkatan kesejahteraan penduduknya. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar masyarakat di Kabupaten Aceh besar ini bekerja di bidang pertanian, peternakan dan perikanan.
Perekonomian Kabupaten Aceh besar ini tidak terlepas dari kejadian-kejadian yang terjadi. Pertumbuhan ekonomi Aceh tahun 2005-2008 sempat terus naik dengan dana sokongan dari Lembaga donor dan pemerintah pusat namun melambat pada tahun 2009. Perlambatan ini disebabkan oleh bencana alam yang terjadi, terjadi pengangguran karena sebagian besar NGO Asing dan local mengakhiri masa baktinya di Aceh serta banyaknya tenaga kerja yang dipensiunkan. Disebutkan bahwa untuk Banda Aceh jumlah angkatan kerjanya mencapai 67.179 jiwa. Sedangkan kesempatan kerja hanya 51.062 jiwa, sehingga terjadi kesenjangan 16.177 jiwa. (Serambi, 15/07/2009)

Perekonomian Aceh besar ini memiliki potensi untuk berkembang lebih banyak karena luasnya peluang investasi disana. Tenaga kerja yang berlebih dapat dimanfaatkan untuk membuka usaha dengan lapangan pekerjaan yang memiliki prospek keuntungan yang baik di masa mendatang. Peluang-peluang investasi yang ada di Kabupaten Aceh Besar, diantaranya adalah;
1. Perkebunan Lada, Jahe, Rambutan
2. Pertanian Padi Hibrida, Palawija
3. Kehutanan Kapas, Jati Super
4. Perikanan Ikan Mas, Kerapu, Lele dan Rumput Laut.
5. Peternakan bibit sapi (breeding), penggemukan sapi (fattening), pakan ternak (frozen meat).
6. Pariwisata seperti;
a. Sungai WIsata Sungai, Wisata Bak Hagu
b. Gedung Wisata Peukan Biluy, Lhoong
c. Kesenian/Budaya Seudati, LikokPulo, Dalil Khairad, Ranub Lampuan
d. Khas khusus rencong, haluwa ue, pelaminan kasab.

Untuk mengembangkan perekonomian pemerintah provinsi Aceh sepakat untuk membentuk kawasan ekonomi berikat yaitu kawasan Basajan yang merupakan kawasan terpadu di wilayah ujung sumatera. Kawasan ekonomi berikat ini terdiri dari Pemkot Banda Aceh, Sabang, dan Pemkab Aceh Besar yang satu sama lain melakukan hubungan kerjasama integrasi pembangunan dan bisnis. Walikota Sabang, Munawarliza Zainal hang ditemui terpisah, mengatakan diluncurkannya konsep kawasan berikat ekonomi terpadu Basajan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi kawasan tiga daerah ini, yang pernah terkenal yakni daerah lhee sagoe atau daerah tiga sagoe rayeuk di zaman kolonial Belanda. (Harian Aceh Online, 2010). Konsultan utama Walikota Banda Aceh, Dr Rainer Droste dari Jerman kepada Harian Aceh mengatakan kawasan Basajan yang mempunyai luas wilayah 3000 km2 atau 5,2 persen dari luas Provinsi Aceh didukung oleh pululasi penduduk diatas 500.000 jiwa atau 12,5 persen dari jumlah penduduk Aceh mempunyai daya pendorong berkembangnya kawasan berikat ekonomi.

Berinvestasi di Aceh besar ini unik dan menguntungkan di masa mendatang karena disamping wilayah yang penh potensi, kebijakan pemerintah daerah Aceh Besar ini dapat mendukung terciptanya iklim investasi yang dapat menyegarkan aktivitas ekonomi secara berkelanjutan dengan kawasan ekonomi berikat. Mitigasi risiko bencana yang akan terjadi juga telah dicanangkan pemerintah melalui rencana pembangunan jangka panjangnya. Oleh karena itu, investor baik dalam negeri dan luar negeri layak mempertimbangkan Aceh Besar ini sebagai wadah yang cocok untuk mengembangkan perekonomian.

Previous Post
Next Post
Related Posts

0 comments: